Berita  

Moratorium Bakar Lahan: Langkah Penting Demi Keselamatan Publik

El Niño Godzilla Meningkatkan Risiko Karhutla di Indonesia

Sudarsono Soedomo, Guru Besar Ekonomi Kehutanan dan Lingkungan IPB University, menyatakan bahwa risiko peningkatan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat El Niño 2026–2027 sangat tinggi dan eksponensial. Fenomena El Niño kategori super atau Godzilla bisa menyebabkan musim kemarau lebih panjang, kering, dan panas dari biasanya.

Dampak Kondisi Cuaca

Peningkatan suhu permukaan laut di Pasifik khatulistiwa melebihi 2,0°C akan mengakibatkan minimnya pembentukan awan konvektif di Indonesia. Hal ini memperparah kondisi kelembapan bahan bakar organik seperti serasah, ranting, dan gambut, meningkatkan risiko kebakaran. Bila El Niño dipengaruhi Indian Ocean Dipole (IOD) positif, curah hujan di Sumatera dan Jawa juga berkurang, meningkatkan potensi bencana ekologis yang massif.

Meskipun Indonesia telah memperbarui teknologi peringatan dini dan penegakan hukum pasca-karhutla 2015, tantangan kelembagaan menjadi hambatan serius. Pembubaran Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) pada 2024 memunculkan potensi fragmentasi tata kelola dan kekosongan koordinasi. Perubahan iklim juga membuat ekosistem gambut semakin rapuh dan mudah terbakar.

Kawasan Rentan dan Mitos Karhutla

Kawasan rentan terbakar, seperti Sumatera bagian timur dan selatan, Kalimantan selatan dan tengah, sangat berpotensi tertimpa musibah ini. Anggapan bahwa membakar lahan skala kecil aman juga dipastikan mitos, apalagi saat El Niño. Perilaku api yang dipengaruhi oleh Fire Weather Index (FWI) harus diwaspadai secara serius.

Source link