Safari Politik Jokowi di Lampung Berdampak Negatif terhadap Ekonomi Nasional
Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), melakukan safari politik di Lampung pada Jumat hingga Minggu (26-28 Juni 2026). Profesor Didik J Rachbini, Rektor Universitas Paramadina dan ekonom Indef, memprediksi bahwa safari politik tersebut akan memiliki dampak negatif terhadap ekonomi Indonesia.
Alasan Prediksi Dampak Negatif
Menurut Didik, Jokowi terus melakukan kunjungan ke seluruh wilayah Indonesia dengan menciptakan panggung politik baru di tengah situasi nilai tukar dan pasar modal yang tertekan dalam ekonomi nasional. Aksinya ini dalam analisis politik akan berdampak hingga tahun 2029. Meskipun demikian, karena pengaruh yang masih kuat dalam pemerintahan, konsekuensinya akan tercermin dalam perkembangan ekonomi saat ini.
Janji Politik dan Realitas
Mengingat bahwa Jokowi sebelumnya berjanji untuk kembali ke Solo dan hidup sebagai warga biasa serta berkumpul dengan cucunya, namun hal tersebut tidak pernah terwujud. Didik mencatat bahwa publik, terutama pesaing politiknya, tidak pernah percaya pada janji-janji tersebut. Tindakan politik saat ini, menurut Didik, merupakan bentuk vulgar dari koalisi antara Jokowi dan pemerintahan Prabowo yang menandakan akhir dari babak politik sebelumnya.
Didik juga menyoroti fakta bahwa dalam strategi politiknya, Jokowi sering kali tidak mengikuti janji-janji yang telah diucapkannya. Safari politik yang digelar saat ini cenderung meningkatkan persaingan politik tanpa memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Lebih lanjut, langkah safari politik ini diperkuat dengan seringnya Gibran melakukan blusukan ke berbagai daerah, menciptakan persaingan politik yang semakin intensif dan cenderung melupakan kebutuhan ekonomi masyarakat.
Sumber: Sindonews












