Dalam upaya untuk merekrut anggota baru, kelompok teroris menggunakan berbagai taktik yang lebih canggih dengan memanfaatkan ruang digital seperti media sosial (medsos) dan game online. Densus 88 Antiteror Polri telah menangkap lima orang dewasa yang terlibat dalam merekrut anak-anak untuk terlibat dalam kelompok teroris. Mereka menggunakan ideologi kanan atau agama sebagai latar belakang untuk merayu potensi korban. Selain itu, mereka juga menggunakan pertanyaan yang berbahaya untuk memperdaya anak-anak dan memaksa mereka untuk merasa terjebak. Juru bicara Densus 88 Antiteror, AKBP Mayndra Eka Wardhana, mengungkapkan bahwa salah satu pertanyaan yang digunakan adalah, “Manakah yang lebih baik antara Pancasila dengan kitab suci?” Pertanyaan ini dirancang untuk menyesatkan anak-anak dan membuat mereka terjerumus ke dalam radikalisme. Dengan menggunakan strategi ini, kelompok teroris berusaha merekrut anggota baru dengan cara yang lebih terencana dan berbahaya.
Pertanyaan Jebakan Teroris untuk Anak-anak: Fakta Menakutkan!
Read Also
Recommendation for You

Operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Kabupaten Tulungagung, Jawa…

Presiden Prabowo Subianto menghadiri acara penyerahan hasil penyelamatan keuangan dan aset negara di Kejaksaan Agung,…

Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) telah mengumumkan bahwa tidak akan ada penyelenggaraan haji Furoda pada…

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia memiliki masa depan yang cerah. Dia menyampaikan pesan agar…

Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mengumumkan bahwa pemerintah akan menanggung kenaikan harga avtur untuk penerbangan…







