Salman Ibnu Hasky. Foto/Dok
Pembuktian Miskin: Ketika Anda Tidak Miskin Menurut Sensus
Menjadi miskin di negeri ini, kata banyak orang, perlu bukti. Tetapi, apakah bukti itu benar-benar tepat? Saat ini, proses pembuktian menjadi miskin sedang berlangsung dengan adanya sensus yang dilakukan petugas di seluruh Indonesia. Mereka mencatat setiap detail anggota keluarga, mulai dari yang tinggal di perumahan mewah hingga di lorong-lorong sempit.
Jika dari hasil sensus tersebut Anda didapati tidak miskin, meskipun hidup serba pas-pasan, maka Anda mungkin akan merasakan dampaknya. Terkadang, di mata pemerintah, Anda tidak dianggap miskin sehingga tidak berhak mendapatkan subsidi BBM seperti pertalite. Langkah ini diambil dalam rangka mengelola APBN agar tidak mengalami defisit terus-menerus.
Subsidi BBM dan Klasifikasi Kemampuan
Pemerintah sedang melakukan klasifikasi ulang mengenai status sosial masyarakat, yakni miskin, mampu, kaya, hingga super kaya. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa subsidi BBM, contohnya pertalite, benar-benar sampai kepada orang yang membutuhkannya. Ada kemungkinan bahwa alokasi subsidi BBM ingin dikurangi tanpa menimbulkan protes dari berbagai pihak.
Masyarakat pun mulai merasa was-was ketika digolongkan sebagai mampu oleh pemerintah. Hal ini berdampak pada penggunaan pertalite, baik untuk motor maupun mobil. Bagi yang dianggap mampu, ternyata tidak boleh menggunakan pertalite di kendaraan mereka yang mungkin sudah jarang masuk bengkel karena keterbatasan ekonomi. Mereka sudah dicap mampu oleh negara dan harus rela mengalihkan ke jenis BBM non subsidi.
Pembatasan penggunaan Pertalite dipandang oleh pihak berwenang sebagai langkah ‘ketepatan sasaran’. Meskipun terkesan megah dan cerdas dalam perumusannya, namun dampaknya terasa di tengah masyarakat yang merasakan keterbatasan ekonomi.












