ASEAN Diminta Jaga Sentralitas di Tengah Tarik Menarik Kepentingan Laut China Selatan
ASEAN dipandang memiliki peran krusial dalam menjaga stabilitas di Laut China Selatan yang merupakan salah satu tantangan kompleks di kawasan. Menurut CEO ISDS Dwi Sasongko, persaingan kekuatan besar dan gesekan sub-regional di wilayah tersebut mendorong ASEAN untuk mencari solusi damai atas persoalan kompleks yang terjadi.
Menjaga ASEAN Centrality di Tengah Tantangan Strategis
Laut China Selatan merupakan salah satu titik rawan geopolitik yang paling kompleks di abad ke-21, dengan tumpang tindihnya klaim teritorial dan maritim serta pertentangan antar kekuatan besar. Hal ini menjadi fokus dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh ISDS dengan tema “Maintaining ASEAN Centrality and Managing the South China Sea Dispute: Strategic Dilemmas, Institutional Limits, and Regional Solutions”.
Dalam forum ini, ISDS menggarisbawahi pentingnya ASEAN sebagai kerangka kerja utama dalam mengelola keamanan regional. Selain itu, ISDS juga menekankan perlunya pengurangan risiko praktis untuk mencegah konflik militer yang tidak diinginkan di kawasan tersebut, yang dapat merugikan perdagangan global dan ekonomi regional.
Meminimalisir Eskalasi Kinetik dan Fokus pada Pembangunan Ekonomi
ISDS menegaskan bahwa dialog diplomatik berkelanjutan dan berbasis konsensus harus menjadi pendekatan utama dalam penyelesaian klaim maritim yang rumit di LCS. Lebih lanjut, mereka juga berpendapat bahwa negara-negara di kawasan seharusnya tidak terjebak dalam perlombaan senjata regional yang mahal, melainkan memfokuskan upaya pada pembangunan ekonomi, pengurangan kemiskinan, dan peningkatan sumber daya manusia sebagai sarana untuk mencapai stabilitas jangka panjang di wilayah ini.
Sumber: Sindonews












