Perang Iran: Dari Bertahan Hidup Menjadi Pengatur Kawasan
Ridwan al-Makassary, Dosen di Fakultas Ilmu Sosial UIII/Direktur Center of Muslim Politics and World Society UIII.
Dalam 103 hari perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, ada perubahan signifikan yang terjadi. Bukan lagi soal jumlah rudal yang diluncurkan atau berapa kapal tanker yang diblokade, namun perhatian tertuju pada bagaimana Iran memandang dirinya sendiri dalam konflik ini.
Perubahan Strategi Iran
Awalnya, banyak yang meyakini bahwa Iran hanya fokus bertahan hidup dari serangan militer AS. Namun, seiring berjalannya waktu, Iran mulai berbicara tentang masa depan kawasan. Hal ini terlihat dari pergeseran fokus negosiasi antara Teheran dan Washington.
Paradoks Sejarah
Ironisnya, perang yang dimulai untuk memaksa Iran tunduk justru memberikan Iran posisi tawar yang lebih kuat. Ultimatum lima belas poin dari AS mulai kehilangan daya pendorongnya, dengan isu rudal balistik yang sudah tidak lagi menjadi fokus utama dalam perundingan.
Iran berhasil menggunakan geografi, terutama Selat Hormuz, sebagai senjata politik dalam perang ini. Selat Hormuz bukan hanya sekadar jalur pelayaran, melainkan menjadi urat nadi ekonomi global yang berpengaruh besar.












