Berita  

Regionalisme Asia dan Dilema Indonesia: Tantangan Global

Harryanto Aryodiguno, seorang Asisten Profesor Hubungan Internasional di President University, memberikan analisis penting terkait penandatanganan Major Defense Cooperation Partnership (MDCP) antara Indonesia dan Amerika Serikat. Peristiwa ini tidak hanya memiliki dampak bilateral dalam bidang pertahanan, tetapi juga mencerminkan dinamika politik global yang lebih luas, terutama dalam konteks regionalisme di Asia.

Dalam literatur hubungan internasional, regionalisme Asia dilihat sebagai sesuatu yang terfragmentasi, saling tumpang tindih, dan berlapis-lapis, atau yang sering disebut sebagai layered regionalism. Kawasan Asia-Pasifik saat ini diisi oleh berbagai kerangka kerja regional yang berjalan secara paralel, termasuk ASEAN, APEC, ASEAN+3, dan Indo-Pasifik.

Implikasi dari kondisi regionalisme yang kompleks ini terlihat dalam kasus MDCP antara Indonesia dan Amerika Serikat. Kerja sama pertahanan antara kedua negara ini tidak hanya berdiri sendiri sebagai hubungan bilateral, tetapi juga merupakan bagian dari lapisan regionalisme Indo-Pasifik yang lebih luas. Sebagai contoh, Indonesia tetap terlibat dalam ASEAN, namun juga terlibat dalam kerja sama keamanan yang didominasi oleh Amerika Serikat tanpa harus meninggalkan struktur regional lainnya. Hal ini disebut sebagai overlapping regional commitments.

Dalam perspektif teoritis, ini sejalan dengan ide bahwa regionalisme seringkali merupakan reproduksi dari tatanan global yang ada. Amerika Serikat tetap menjadi penyedia keamanan utama dalam konteks Asia-Pasifik, dan inisiatif regional seperti Indo-Pasifik dapat dianggap sebagai ekstensi dari dominasi global Amerika.

Di saat yang sama, Indonesia mengambil langkah-langkah strategis untuk menghindari ketergantungan pada satu kekuatan besar saja, melainkan sebagai bentuk strategic hedging. Meskipun menjalin kerja sama militer dengan Amerika Serikat, Indonesia juga menjaga hubungan dengan Tiongkok dan tetap mempertahankan kemandirian dalam keputusan terkait wilayah udaranya.

Pandangan ini menunjukkan bahwa negara-negara di Asia tidak mencoba untuk menjadi independen dari kekuatan besar, melainkan berusaha untuk beradaptasi dan memanfaatkan hubungan tersebut sesuai dengan kepentingan nasional mereka. Indonesia terus menavigasi dinamika geopolitik dengan strategi “berpartisipasi tanpa berkomitmen penuh,” yang memungkinkan fleksibilitas dalam menghadapi kompleksitas struktur global dan regional.

Source link