Elite Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dikritik karena krisis kepemimpinan yang serius. Rais Aam KH Miftahul Ahyar, Ketua Umum Tanfidziyah KH Yahya Cholil Staquf, dan Sekjen Saifullah Yusuf dilaporkan tidak sejalan dan bahkan saling pecat. Usaha islah seperti yang diinginkan oleh beberapa kiai senior NU juga belum membuahkan hasil. Berbagai faksi di kalangan elite PBNU masih bertahan pada ego masing-masing, sehingga krisis kepemimpinan sulit diselesaikan.
Menurut Airlangga Pribadi Kusman, Kepala Pascasarjana Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga Surabaya, langkah penting dalam menyelesaikan konflik ini adalah dengan melakukan reformasi total kepengurusan PBNU. Konflik terkait pengelolaan tambang di antara berbagai faksi di PBNU, seperti yang diungkapkan oleh Ketua PBNU Ulil Absar Abdalla, menjadi pemicu utama dari konflik elit yang terjadi. Ketidakpercayaan terhadap Rais Aam dan Tanfidziyah menunjukkan adanya krisis legitimasi yang serius dalam tubuh PBNU.
Airlangga mencatat bahwa dalam situasi ini, diperlukan adanya kelompok-kelompok yang mampu mendorong pembaharuan melalui proses reformasi total kepengurusan di PBNU. Reformasi ini diharapkan dapat membawa udara segar ke dalam tubuh PBNU, yang sedang mengalami krisis kepemimpinan yang rumit dan melebar. Selain itu, ventilasi dari luar juga dianggap penting untuk menyegarkan tubuh PBNU dalam menghadapi tantangan yang ada.












