Pembukaan Muktamar X PPP di Ancol, Jakarta Utara pekan lalu mengalami kericuhan yang mengejutkan banyak pihak. Ketua Dewan Pembina Angkatan Muda Ka’bah (AMK), Joko Purwanto, meminta ulama dari berbagai organisasi seperti NU, Perti, Muslimin Indonesia, dan Syarikat Islam untuk angkat bicara terkait kondisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) saat ini. Menurut Joko, keputusan yang diambil dalam Muktamar tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai Islam dan akhlakul karimah yang seharusnya dijunjung tinggi.
Joko melanjutkan dengan membandingkan masa kepemimpinan sebelumnya dengan situasi saat ini. Dia menyayangkan perubahan sikap politikus PPP setelah era Suryadharma Ali berakhir. Menurutnya, pemilihan ketua umum tidak lagi didasarkan pada kapasitas individu, melainkan berdasarkan mahar yang diterima oleh pengurus cabang. Hal ini dianggapnya sebagai penyimpangan dari prinsip Islam yang seharusnya dijunjung tinggi dalam berpolitik.
Kondisi ricuh dalam Muktamar tersebut juga memperlihatkan adanya ketegangan antara kader PPP, dengan insiden aksi adu jotos dan lempar kursi. Semua ini menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi dalam PPP memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak terutama ulama, untuk mengembalikan partai ini ke arah yang sesuai dengan ajaran Islam.












