Keamanan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus dinilai dari dampaknya terhadap setiap penerima manfaat, bukan semata-mata dari kecilnya persentase kasus keracunan. Pakar keamanan dan ketahanan pangan Eko Hari Purnomo menegaskan, makanan yang dikonsumsi masyarakat semestinya tidak menimbulkan penyakit.
Eko menilai pendekatan berbasis persentase berisiko mengaburkan prinsip utama keamanan pangan. Walaupun jumlah korban terlihat kecil dibandingkan keseluruhan penerima program, munculnya kasus keracunan tetap menandakan bahwa makanan yang diberikan belum sepenuhnya aman.
“Kalau kita berbicara keamanan pangan, saya sering kali mengatakan kita tidak bisa mengatakan dari sisi persentase karena yang keracunan hanya 0,005 misalnya, maka itu dianggap kecil. Kenapa saya mengatakan itu? Karena pangan itu harusnya aman. Kalau dia nggak aman, itu bukan pangan,” ujar Eko dalam program One On One yang ditayangkan SindoNews TV, dikutip Minggu (13/9/2026).
Keamanan diukur dari ada atau tidaknya korban
Menurut Eko, ukuran keamanan pangan bukan terletak pada perbandingan antara jumlah orang yang sakit dan jumlah keseluruhan konsumen. Tolok ukurnya adalah apakah makanan tersebut dapat dikonsumsi tanpa menyebabkan gangguan kesehatan.
Karena itu, jaminan keamanan harus berlaku bagi seluruh konsumen, termasuk anak-anak yang menjadi penerima manfaat MBG. Dalam pandangannya, kasus yang secara statistik tampak kecil tidak dapat dikesampingkan apabila tetap ada orang yang jatuh sakit setelah menyantap makanan yang disediakan.
“Kalau saya melihatnya, aman itu kalau nggak ada yang sakit pada saat dia mengonsumsi pangan itu, bukan sekian persennya,” kata Eko.
Pernyataan tersebut menempatkan pencegahan kasus sebagai bagian penting dalam pelaksanaan MBG. Bagi Eko, pembahasan mengenai keamanan tidak cukup berhenti pada rendahnya proporsi korban karena prinsip dasarnya adalah memastikan makanan tidak membahayakan orang yang mengonsumsinya.
Makanan tidak aman dinilai menjauhkan tujuan MBG
Eko juga mengingatkan bahwa persoalan keamanan makanan berkaitan langsung dengan tujuan program MBG. Program tersebut ditujukan untuk memperbaiki status gizi anak agar mereka dapat tumbuh dan berkembang secara lebih optimal, sekaligus menjadi sumber daya manusia yang diharapkan pada masa depan.
Namun, tujuan itu dinilai dapat terganggu apabila makanan yang disajikan justru menyebabkan penerima manfaat sakit. Dalam kondisi tersebut, anak bukan hanya gagal memperoleh manfaat gizi sebagaimana direncanakan. Asupan gizi yang diterima juga harus digunakan tubuh dalam proses pemulihan.
“Tapi kemudian kalau makanan itu tidak aman, apa yang terjadi? Bukan saja dia tidak mendapatkan gizi, tetapi gizi yang ada itu pun harus digunakan untuk proses penyembuhan. Jadi jauh dengan cita-citanya,” jelas Eko.
Atas dasar itu, ia menekankan bahwa keamanan tidak dapat dipisahkan dari upaya pemenuhan gizi dalam program MBG. Makanan baru dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan penerima manfaat apabila aman dikonsumsi dan tidak menimbulkan penyakit.












