Membangun Angkatan Laut Modern di Era Globalization 2.0 dan Economic Warfare
Laksma TNI Salim, Kapusjianmar Seskoal, menyampaikan bahwa sejarah peradaban maritim dunia saat ini mengalami titik balik radikal. Paradigma dominasi laut global selama ini yang didasarkan pada konsep Sea Control, kini dihadapkan pada dinamika geopolitik mutakhir.
Paradigma Baru dalam Kekuatan Maritim
Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah membuktikan bahwa kekuatan konvensional tidak lagi menjadi penentu utama. Strategi Sea Denial, Anti-Access/Area Denial (A2/AD), dan taktik Hybrid & Distributed Lethality kini menjadi fokus utama dalam menghadapi ancaman maritim.
Bagi Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, hal ini bukan sekadar isu akademis. Indonesia perlu melakukan transformasi doktrinal dalam mengamankan kedaulatan maritimnya. Penerapan strategi Sea Denial, memanfaatkan teori Anti-Access, dan revitalisasi semangat Jeune École merupakan langkah penting dalam menghadapi perubahan kondisi global saat ini.
Transformasi Angkatan Laut untuk Melindungi Kekayaan Ekonomi
Indonesia harus menyadari bahwa kekuatan angkatan laut tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer semata, tetapi juga oleh kebijakan taktis yang cerdas, teknologi modern, serta kemandirian industri pertahanan lokal. Dengan membangun postur angkatan laut yang adaptif dan efisien, Indonesia dapat menjaga kedaulatan ekonomi serta martabat bangsa di era peradaban maritim abad ke-21.
Saat ini, dalam masa Globalization 2.0, terjadi perubahan signifikan dalam geopolitik dan ekonomi dunia. Fragmentasi blok ekonomi, kebijakan proteksionisme, dan era Economic Warfare menuntut negara-negara untuk menyesuaikan strategi pertahanan maritim mereka secara menyeluruh.












