Ngertakeun Bumi Lamba XVIII Menjadi Momentum Menjaga Alam Nusantara

Pilihan yang kita buat saat ini memiliki dampak langsung terhadap nasib bumi, bukan keputusan generasi setelah kita yang belum lahir. Situasi perubahan iklim yang mengancam ditambah kerusakan hutan yang semakin meluas menjadikan perlindungan lingkungan sebuah mandat moral yang harus kita pikul bersama, bukan hanya sekadar pilihan pribadi.

Rangkaian pesan ini kuat terasa dalam pelaksanaan ritual adat Ngertakeun Bumi Lamba XVIII di Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu, Subang, pada Minggu (21/6). Prosesi spiritual yang mengangkat tema “Manik Maya, Ibu Bumi, Bapak Angkasa” ini mempersatukan berbagai pihak: mulai dari tokoh adat, budayawan, sampai pegiat lingkungan dari berbagai wilayah, untuk mendalami hubungan manusia dan alam serta menggugah keinsafan akan peran kita.

Dalam suasana kontemplatif tersebut, Andy Utama, Pembina Paseban Foundation, menyampaikan pesan penting yang menggugah: “Karena ada hari ini, baru bisa ada hari esok.” Kalimat itu menekankan makna dari waktu kini sebagai landasan untuk masa depan yang lebih baik.

Menelusuri Nilai dan Tanggung Jawab Etika terhadap Lingkungan

Kearifan lokal yang diangkat dalam ritual Sunda tersebut sesungguhnya mengakar pada tradisi panjang pemikiran lingkungan hidup di Indonesia. Emil Salim, tokoh pembangunan berwawasan lingkungan sejak tahun 1970-an, menyerukan harmoni antara ekonomi, sosial, dan pelestarian lingkungan. Garis besar pemikirannya adalah bahwa keberlanjutan harus selalu diutamakan, dan keseimbangan ekosistem tidak boleh dirusak atas nama kemajuan.

Pemikiran ini pun selaras dengan keadilan antargenerasi yang dibahas oleh Richard P. Hiskes. Ia menyorot betapa generasi sekarang wajib menjaga hak-hak generasi berikutnya terhadap lingkungan hidup yang sehat agar bumi tetap layak untuk dihuni. Andy Utama terinspirasi oleh gagasan ini dengan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk meninggalkan pola pikir seolah-olah bumi adalah milik mutlak manusia. Sebaliknya, manusia seharusnya berperan sebagai pengurus dan penjaga lingkungan.

Mewujudkan Kepedulian dalam Tindakan Nyata di Lanskap Megamendung

Cinta pada bumi tidak cukup hanya sebatas tutur kata atau wacana tanpa pembuktian nyata. Itulah sebabnya, lewat Paseban Foundation, Andy bersama timnya menerapkan filosofi lama ke dalam aksi konservasi di kawasan Lanskap Megamendung.

Mereka melaksanakan berbagai langkah konkret, di antaranya:

Pengembangan pertanian alami yang ramah lingkungan dan rendah polusi, menjaga kesuburan tanah tetap terjaga.

Pendirian pusat perlindungan dan penangkaran satwa, termasuk Lembah Aviary Paseban, penangkaran Rusa Timor, hingga melepasliarkan satwa-satwa dilindungi seperti Elang Jawa ke habitat aslinya.

Penanaman massal lebih dari 21.000 bibit pohon dari ratusan jenis tanaman hutan untuk memulihkan kembali kawasan Megamendung, demi mengembalikan keragaman hayati seperti seratus tahun lalu.

Langkah-langkah ini adalah implementasi langsung dari gagasan besar tentang masa depan bumi agar tidak sekadar berhenti di tataran teori, namun benar-benar terasa manfaatnya bagi bumi.

Warisan Sejati Setelah Hidup Usai

Keberhasilan Andy dan gerakannya adalah membawa gagasan besar, baik dari Emil Salim maupun Richard Hiskes, dari ruang kelas dan buku menjadi nyata dalam cangkul, biji pohon, serta perlindungan satwa. Semua bentuk aksi ini merupakan warisan yang bernilai jauh di luar harta benda.

Mengakhiri refleksinya, Andy Utama menyampaikan renungan yang menancap kuat: “Bukan seberapa banyak yang kita simpan yang dikenang orang nanti, melainkan seberapa banyak yang kita tinggalkan bagi hidup dan kelestarian.” Pesan tersebut menegaskan satu hal penting: setiap langkah kecil merawat bumi hari ini adalah investasi utama untuk kelangsungan kehidupan esok hari.

Sumber: Ngertakeun Bumi Lamba XVIII: Tradisi Yang Menjadi Inspirasi Konservasi Modern
Sumber: Warisan Untuk Masa Depan: Belajar Menjaga Keseimbangan Alam Dari Ritual Ngertakeun Bumi Lamba XVIII