Fashionology 2026: Makna dan Isu dalam Busana
Sebuah gelaran fashion show bisa menjadi wadah untuk menyampaikan isu-isu penting di masyarakat. Hal ini terbukti melalui Fashionology 2026 yang diselenggarakan oleh Program Studi Fashion Product Design and Business, Fakultas Industri Kreatif Universitas Ciputra (UC) Surabaya. Mereka tidak hanya menampilkan keindahan gaun, tetapi juga menginterpretasikan berbagai isu sosial, budaya, teknologi, hingga keberlanjutan melalui perspektif fashion yang segar dan relevan.
Konseptual Streetwear: “Interior” dan Skizofrenia Paranoid
Salah satu karya yang mencuri perhatian dalam acara tersebut adalah koleksi streetwear konseptual bertajuk “Interior” karya Jocelin Clementine. Melampaui awareness terhadap kesehatan mental, Jocelin menggunakan fashion sebagai medium ekspresi untuk menerjemahkan kompleksitas psikologis penderita Skizofrenia Paranoid. Dalam proses kreasi, Jocelin melakukan wawancara langsung dengan penyintas, yang menghasilkan koleksi bahan denim dan katun yang personal, gelap, namun indah.
Dalam koleksinya, Jocelin menggambarkan paranoid melalui detail-detail garmen yang cerdas. Siluet oversized melambangkan mekanisme pertahanan diri, konstruksi asimetris mencerminkan ketidakstabilan batin, motif mata tersebar di permukaan kain mewakili rasa diawasi konstan, sementara aksen slashing dan lilitan tali merah dan rantai mengekspresikan luka batin dan perasaan terkekang.
Urban Hip Hop, Limbah Batik, dan Pemberdayaan UMKM
Menggeser fokus ke dinamika urban, Muhammad Atho’illah menghadirkan energi jalanan melalui koleksi streetwear yang terinspirasi dari Budaya Skena Hip Hop Lokal. Dengan menggunakan limbah kain batik dari Omah Batik Pina Pinu, Atho’illah menciptakan pakaian streetwear bertekstur unik, global namun tetap mengandung identitas lokal.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Program Studi Yoanita Kartika Sari Tahalele menekankan bahwa karya mahasiswa tidak hanya menciptakan pakaian yang estetis, tetapi juga menyelesaikan permasalahan masyarakat secara holistik melalui desain dan produk fashion.
Melalui Fashionology 2026, mahasiswa diperkenalkan langsung kepada industri fashion sehingga memiliki kesempatan untuk menjalin kerjasama dan bahkan mendapatkan pekerjaan dari karya-karya yang mereka hasilkan.








