Wusi Tungkau Nansarunai: Mengungkap Jiwa yang Tak Pernah Runtuh di Usak Jawa

Pementasan Sendratari Wusi Tungkau Nansarunai: Kisah Bangkitnya Kerajaan Dayak Ma’anyan

Di bawah sorot lampu panggung UPT Taman Budaya Kalimantan Tengah, memoar kolektif bangsa Dayak Ma’anyan dihidupkan kembali melalui pementasan sendratari pada Jumat malam. Pementasan ini, yang bertajuk “Wusi Tungkau Nansarunai,” bukan hanya sekadar gerak tari, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang kehancuran, hawa nafsu, dan keteguhan untuk bangkit dari puing-puing sejarah.

Kejayaan Kerajaan Dayak Ma’anyan

Kisah tersebut berkisah tentang kejayaan Kerajaan purba Suku Dayak Ma’anyan, salah satu sub suku Dayak tertua di Kalimantan. Kerajaan ini berdiri sejak zaman prasejarah dan bertahan ribuan tahun sebelum akhirnya runtuh. Kerajaan Nansarunai hidup dalam harmoni di bawah kepemimpinan Amah Jarang, di mana kesuburan tanah dirayakan melalui ritual wadian dan nyanyian syukur. Namun, kehidupan damai itu terusik oleh kedatangan “Nansarunai Usak Jawa,” yang membawa bencana bagi peradaban mereka.

Pesan Filosofis dan Kebangkitan

Pementasan ini tidak hanya menampilkan peperangan fisik, melainkan juga pesan filosofis yang kuat tentang pengendalian diri. Produser pementasan, Alfirdaus, menekankan bahwa hawa nafsu yang tak terkendali menjadi pemicu utama kehancuran Nansarunai. Sementara ratusan penonton yang memadati tribun UPT Taman Budaya disuguhi momen-momen dramatis tentang eksodus Suku Dayak Ma’anyan ke hutan Barito demi kelangsungan hidup.

Meskipun Kerajaan Nansarunai hancur, jiwa dan identitas Dayak Ma’anyan tetap hidup dalam diri mereka. Alfirdaus menyoroti pentingnya menjaga akar budaya di tengah arus zaman, memberikan harapan kepada generasi muda untuk mampu memahami sejarah dan mengambil hikmah dari sumber itu. Kesadaran akan sejarah diharapkan dapat menjadi benteng bagi anak cucu Dayak Ma’anyan agar tidak mengulangi kesalahan masa lalu.

Di balik tragedi usak Jawa, pementasan sendratari ini menjadi pembuktian bahwa luka masa lalu dapat menjadi pendorong semangat baru untuk membangun masa depan yang lebih baik. Malam itu, panggung UPT Taman Budaya menjadi saksi bahwa kehancuran bukanlah akhir dari segalanya, melainkan titik awal dari kebangkitan yang lebih besar.

Source link