Berita  

Perang Algoritmik: Dampak Kehancuran Kemanusiaan

Ressa Uli Patrissia merupakan seorang Dosen di Universitas Muhammadiyah Palangka Raya yang juga seorang Pemerhati Komunikasi dan Teknologi, serta Peneliti Komunikasi Algoritmik. Dia mengamati perubahan mendasar dalam cara manusia terlibat dalam konflik hari ini, khususnya melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. Perang saat ini tidak lagi terjadi dalam bentuk konflik konvensional, namun telah berubah menjadi perang yang dilakukan secara terselubung melalui teknologi militer dan algoritma.

Perkembangan teknologi seperti automated target prioritization, di mana sistem secara otomatis mengidentifikasi, meranking, dan merekomendasikan target serangan berdasarkan data masif, telah mengubah cara perang modern terjadi. Pertanyaan yang muncul adalah siapa yang bertanggung jawab ketika algoritma tersebut membuat kesalahan dalam menentukan target serangan. Industri pertahanan mencoba membenarkan sistem ini dengan memasukkan unsur “human in the loop”, namun pada kenyataannya, keputusan seringkali diambil berdasarkan rekomendasi algoritma tanpa pertimbangan moral yang memadai.

Penggunaan drone militer juga seringkali dibenarkan dengan alasan pengurangan risiko terhadap tentara yang menyerang. Namun, ini sebenarnya hanya merupakan transfer risiko dari pihak penyerang ke pihak yang diserang, termasuk warga sipil yang tidak memiliki drone untuk melakukan balasan. Hal ini menciptakan jarak psikologis antara pelaku serangan dan korban yang sangat merusak secara moral.

Dengan adanya normalisasi kekerasan melalui algoritma dan teknologi militer, kita harus mulai mempertanyakan etika dan akuntabilitas dalam cara perang modern dilakukan. Transformasi ini tidak hanya menjadi masalah teknis, tetapi juga krisis etika yang berpotensi mengancam kemanusiaan.

Source link