Perubahan iklim bukan lagi ancaman di masa depan, tetapi telah menjadi realitas yang nyata dan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Salah satu dampak yang terjadi adalah peningkatan intensitas curah hujan ekstrem di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menekankan bahwa perubahan iklim telah terjadi dan memberikan dampak yang signifikan. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyoroti fenomena Siklon Tropis Senyar yang baru-baru ini melanda wilayah Sumatera. Siklon ini menyebabkan curah hujan yang melebihi batas normal dan mencatatkan rekor baru di beberapa wilayah.
Menurut Ardhasena, Siklon Senyar telah mencatatkan rekor curah hujan tertinggi sejak tahun 1991, dengan beberapa wilayah mengalami hujan dua hingga tiga kali lipat dari kondisi normal. Dalam sebuah diskusi ilmiah, Ardhasena menjelaskan bahwa Siklon Tropis Senyar merupakan bagian dari tren pemanasan global yang konsisten. BMKG juga telah melakukan analisis terhadap tren perubahan iklim dengan catatan tahun 2024 sebagai tahun terpanas di Indonesia dengan suhu rata-rata mencapai 27,5°C. Sedangkan tahun 2025 mencatatkan anomali suhu +0,38°C di atas rata-rata periode normal 1991-2020, menjadi tahun terpanas urutan keenam dalam sejarah pengamatan di Indonesia.
Perubahan iklim dan fenomena ekstrem seperti Siklon Tropis Senyar merupakan bukti konkret dari dampak perubahan iklim yang semakin nyata di Indonesia. Peningkatan curah hujan ekstrem dan suhu yang semakin tinggi menjadi peringatan penting bagi masyarakat dan pemerintah untuk lebih serius dalam mengatasi masalah ini. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang perubahan iklim, diharapkan langkah-langkah adaptasi dan mitigasi dapat dilakukan secara efektif untuk melindungi masyarakat dan lingkungan dari dampak buruk perubahan iklim yang semakin terasa.












