Hanna Fauzie, seorang pecinta sepak bola dan pemerhati isu internasional, terlibat dalam mengamati ketegangan antara Thailand dan Kamboja yang semakin meningkat. Perselisihan antara kedua negara tersebut, yang dipicu oleh isu perbatasan, sentimen nasionalisme, dan dinamika politik domestik, kini telah merembet ke dunia olahraga. Kamboja memutuskan untuk menarik seluruh atletnya dari SEA Games setelah menerima desakan dari keluarga atlet yang khawatir akan keselamatan mereka di Thailand.
Keputusan ini menunjukkan bahwa ketegangan antara kedua negara tersebut telah melebihi batas diplomasi dan kini menjadi perhatian di dunia olahraga, di mana seharusnya menjadi panggung solidaritas kawasan. Indonesia, dalam posisinya sebagai penjaga keseimbangan di ASEAN, diharapkan dapat menunjukkan peranannya dalam menghadapi situasi yang memanas ini.
Indonesia dikenal dengan tradisi ‘Quiet Diplomacy’ di kawasan ASEAN. Dalam hal ini, Indonesia berperan sebagai mediator yang mengutamakan konsultasi, dialog, dan pendekatan yang menghormati kondisi politik negara lain. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip quiet diplomacy yang diperkenalkan oleh Hedley Bull, di mana negara mediator bekerja secara rahasia untuk mencegah eskalasi konflik secara publik.
Sejarah menunjukkan bahwa Indonesia telah berhasil meredam sejumlah konflik di kawasan ASEAN, seperti mediasi antara Kamboja dan Vietnam pada 1980-an serta fasilitasi bagi Myanmar dalam berbagai periode transisi politiknya. Dengan demikian, peran Indonesia sebagai penjaga keseimbangan di ASEAN kembali diuji dalam menghadapi situasi konflik antara Thailand dan Kamboja.












